Catatan tentang menyebarkan semangat positif
– Catatan Peter Martyr, De Orhe Novo , 1530
Kutipan diatas menjelaskan bagaimana kepulauan rempah Hindia sejak abad pertengahan menjadi incaran para penjelajah Eropa untuk menemukan dunia baru.
Ketika orang orang Eropa dalam abad pertengahan masih mengkonsumsi makanan yang rasanya hambar, tidak enak – karena rendahnya taraf kehidupan disana, Sementara di negeri Hindia sudah biasa mencampur lada, jahe, kayu manis dan cengkih untuk menyamarkan rasa asin dan mengawetkan daging serta makanan agar tidak cepat membusuk.
Kisah selanjutnya adalah sejarah yang menuliskan ketika Hindia, kelak bernama Indonesia menjadi tanah jajahan dari negeri negeri penjarah berkulit pucat yang berawal dari pencarian rempah rempah.
Semua ini saya kaitkan dengan Anies Baswedan yang menyampaikan orasinya di pembukaan hajatan ON | OFF kemarin.
Sebuah pidato yang inspiratif tentang bagaimana mengkonstruksikan Indonesia dengan pikiran positif. Sebuah ide besar tentang Indonesia tidak dimulai hari ini. Tapi ketika Soekarno – Hatta membuang pikiran pesimisnya tentang modal dasar pendirian republik ini.
Dikatakan, untuk jumlah penduduk 70 juta orang, hanya terdapat sekolah setingkat SMA sebanyak 95 buah dan sekitar 300 an sekolah dasar.
Sehingga jumlah penduduk yang buta huruf hampir 95 persen dari keseluruhan populasi.
Tapi semuanya tidak mengurungkan niat para bapak bangsa untuk tetap optimis mendirikan republik ini.
Melihat keseharian Indonesia melalui media massa yang kita baca memang menjadikan pikiran pesimis tentang negeri ini.
Tapi semuanya tidak mengurungkan niat para bapak bangsa untuk tetap optimis mendirikan republik ini.
Melihat keseharian Indonesia melalui media massa yang kita baca memang menjadikan pikiran pesimis tentang negeri ini.
Korupsi, ketidak-adilan, kejahatan, bencana membuat semuanya terasa apatis. Demikian ia melanjutkan, bahwa kita harus tetap merekonstruksikan pikiran positif demi kemajuan bangsa.
Ketika rektor Universitas Paramadina yang cerdas itu masih bercerita banyak, pikiran saya menerawang kepada pidato politik Bung Karno di hadapan anggota anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai tanggal 1 Juni 1945.
Bung Karno mengatakan Lenin mendirikan Sovyet Russia juga ketika masih banyak penduduknya yang buta huruf. Demikian pula Ibn Saud dari Saudi Arabia.
Jika menunggu Indonesia sehat dan segala macam persyaratan. Sampai 20 tahun kemudianpun kita belum merdeka.
Indonesia bukan sekedar sekumpulan orang yang berkehendak bersatu atau mengutip Otto Bauer, persatuan perangai karena persamaan nasib.
Indonesia menurut Soekarno ialah seluruh manusia manusia yang menurut geopolitik telah ditentukan oleh Allah swt, tinggal di kesatuan semua pulau pulau dari ujung utara Sumatera sampai ke Irian. Seluruhnya ! Karena antara manusia 70 juta orang ini sudah ada “ le desir d’eetre ensemble “. Sudah terjadi.
Sebagai bangsa kita sudah mengalami peradaban yang luar biasa ketika bangsa bangsa Eropa masih berada pada jaman kegelapan. Namun sejarah mencatat kegagalan kita. Kini kita masih tetap salah satu bangsa besar, dan ironisnya masih saja terseok seok.
Komitmen kebangsaan ini barang kali yang membuat konstruksi pikiran pikiran positif untuk hari yang lebih baik.
Anies kembali lagi melontarkan analogi menarik, bahwa dengan melihat Epicentrum Walk tempat dia memberikan orasi. Selalu melihat kepada siapa pemilik gedung ini. Walau ia tak menyebut nama, namun semua orang tahu bahwa kelompok usaha Bakrie penuh dengan kontroversi yang dibawa oleh Aburizal Bakrie.
Sehingga yang timbul hanyalah pikiran kontruksi negative. Padahal dibalik pembangunan gedung ini ada ribuan orang yang terlibat. Ada insinyur insiyur Indonesia yang kreatif merancangnya.
Exactly. Demikian saya ngunandika. Ada manusia manusia yang bekerja dengan jujur, tulus dan menjadi tulang punggung keluarganya di balik gedung megah milik keluarga Bakrie ini. Persis dengan hajatan social media.
Selalu yang dilihat kontroversi siapa penyelenggaranya. Padahal jauh dibalik itu ada ratusan atau bahkan ribuan orang yang bisa mengambil manfaat.
Ada masyarakat blog yang bisa berinteraksi satu sama lain. Ada momentum yang ujungnya adalah membuat Indonesia lebih baik. Tentu saja melalui penyuaraan di social media.
Daripada terus-terusan nyinyir, membangun konflik di Time Line. Kita lupa dengan esensi mengkonstruksi pikiran positif sebagaimana yang disuarakan Anies Baswedan. Kita lupa untuk blogwalking, sehingga tak tahu ada blogger blogger baru yang bermunculan.
Lupa untuk memberi apresiasi kepada mereka yang terus memberikan komitmen kepada negeri, seperti guru guru dari Indonesia Mengajar , yang suka rela ditempatkan di bagian terpencil negeri ini. Kita lupa untuk menghidupi ‘ harapan ‘ di negeri ini.
Abdul Rahman Baswedan adalah seorang pemberontak di zamannya. Ia pernah bekerja di harian Sin Tit Po dan bertanggung jawab untuk mengisi kolom bertajuk Abunawas yang membangkitkan semangat keindonesiaan.
Sikap seperti itu tergolong langka saat itu. Sebab melalui peraturan yang dikeluarkan Pemerintah colonial, komunitas Arab –seperti halnya Tionghoa – mendapatkan kedudukan kelas di atas warga pribumi.
Kelak ia menyerukan pada orang-orang keturunan Arab agar bersatu membantu perjuangan Indonesia serta mengkritik praktek praktek kolonial. Ia mengajak keturunan Arab, seperti dirinya sendiri, menganut asas kewarganegaraan ius soli: di mana saya lahir, di situlah tanah airku.
A.R. Baswedan melemparkan gagasan tentang tanah air Indonesia dalam konferensi PAI (Persatuan Arab Indonesia) yang kelak menjadi embrio Partai Arab Indonesia. Sebagai simbolisasi ikut mendukung perjuangan kemerderkaan itu, A.R. Baswedan memakai blangkon (penutup kepala orang Jawa). Sikapnya itu sempat ditentang keras oleh sebagian komunitas Arab lainnya.
Kita memiliki modal yang luar biasa. Catatan perjalanan penjelajah sekitar tahun 890 – 956 dalam Meadows of Gold , dikatakan “ Tak ada kerajaan lain yang memiliki lebih banyak sumber daya alam, komoditas ekspor dibanding kerajaan ini. Harta mereka antara lain, kapur barus, pohon gaharu, cengkih, kayu cendana, buah pinang, bunga pala, kemukus dan sebangsanya. “
Sampai sekarang kita masih saja kesulitan merekonstruksikan betapa luar biasanya negeri yang dinamakan Indonesia.
Pikiran pesimistis membuat kita selalu terjebak dalam pertikaian. Sekali lagi sama dengan raja raja dan pangeran lokal jaman dahulu yang selalu dengan mudah diadu domba oleh penjajah.
Sejarah memang tidak bisa terulang. Colombus yang tidak pernah menemukan Hindia, malah menemukan Amerika. Sebuah berkat yang lain.
Sementara kita sampai sekarang masih belum menemukan jalan menuju masyarakat adil makmur. Namun jalan itu ada. Kita memang tak boleh menyerah.
Kita beruntung memiliki Baswedan muda yang selalu mengingatkan.
sumber : blog.imanbrotoseno.com







0 komentar:
Post a Comment