MOBIRA
Home »
AUTOMOTIVE
» MOBIRA
Lulus dari Teknik Mesin ITB tahun 1990, Dasep semula berniat melanjutkan kuliah ke jenjang S2. Maka ia pun melamar bekerja di PT PINDAD-MEPPO, Jakarta. Ia bekerja sebagai Engineer (1990-1992). Selama di MEPPO, ia sempat mengikuti kursus singkat Deutsch als Fremdsprache Goethe Institute Bandung sehingga ia bisa berkomunikasi dalam bahasa German.
Selama kurun waktu 2 tahun itu, banyak aktivitas, pelatihan dan prestasi yang diraihnya. Salah satunya adalah menjadi narasumber di bidang Computer Aided Design (CAD)/ Computer Aided Manufacturing (CAM). Tahun 1992 ia menjadi Pembicara di seminar bertajuk “CAD/CAM in Engineering Activities (Mesin ITB)” di ITB Bandung.
Namun ternyata ia merasa lebih cocok masuk ke dunia usaha maka Kemudian ia pindah ke PT Astra International Jakarta. Berbekal pengalamannya bekerja di MEPPO-PINDAD, Dasep langsung menjabat Senior Engineer. Dia bekerja di Astra Group selama enam tahun hingga 1998.
Pada tahun yang sama, Dasep mengikuti kursus singkat mengenai Computer Controlled Motion, Mechanical Engineering, di ITB Bandung, dan Astra Basic Training Program PT Astra International Jakarta.
Tahun 1993, Dasep berhasil mendapatkan beasiswa Impuls Stiftung dari VDMA untuk belajar mengenai permesinan di German, tepatnya dari CDC Koeln ditempatkan di Trumpf Maschinen Fabrick Stuttgart, beliau belajar berbagai hal termasuk Bedienung Grafikgestuetztes, Trumatic 500, Research and Development dll.
Sepulang dari German, Dasep dipromosikan sebagai Chief Engineering di PT Astra Daihatsu Motor-Engine Plant. Jabatan tersebut diembannya dari tahun 1994-1998.
Terkait dengan tugasnya di PT Astra Daihatsu Motor tersebut, tahun 1995 dan 1996, Dasep berkesempatan menimba ilmu di Jepang, tepatnya di Machinery Design, Tada Plant Daihatsu Motor Corp, Osaka, Jepang.
Menurut Dasep, banyak nilai positif yang dia petik selama bekerja di Astra Goup. Astra adalah perusahaan yang mempuyai idealisme dan visi misi untuk menjadikan perusahaan tersebut sebagai asset bangsa dan Negara.
Astra mengembangkan nilai-nilai yang baik yang bisa diteladani oleh perusahaan-perusahaan di dalam negeri.
Astra juga selalu berusaha mengembangkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia dengan sebaik mungkin. “Jadi, Astra berusaha mengembangkan perusahaan atau industry yang bermanfaat untuk bangsa dan Negara Indonesia,” paparnya.
Astra mengembangkan nilai-nilai yang baik yang bisa diteladani oleh perusahaan-perusahaan di dalam negeri.
Astra juga selalu berusaha mengembangkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia dengan sebaik mungkin. “Jadi, Astra berusaha mengembangkan perusahaan atau industry yang bermanfaat untuk bangsa dan Negara Indonesia,” paparnya.
Ia menambahkan, basic training yang diadakan oleh Astra tidak hanya belajar mengenai manufaktur, tapi juga marketing, keuangan, sampai tim building.
“Jadi, para karyawan Astra dididik tidak hanya menjadi tukang, tapi bagaimana menjadi asset yang berguna bagi bangsa dan Negara,” tegasnya.
“Jadi, para karyawan Astra dididik tidak hanya menjadi tukang, tapi bagaimana menjadi asset yang berguna bagi bangsa dan Negara,” tegasnya.
Dasep merasa beruntung, selama bekerja di Astra Group ia berkesempatan mendalami berbagai kegiatan industri/mesin. Ia juga kerap menangani berbagai masalah di bidang engineering, baik menyangkut bekerja sama dengan orang Jepang maupun dengan tenaga dari Indonesia.
Beberapa kali dia dikirim ke Jepang untuk memperdalam bidang machinery dan engine. “Saya jadi makin percaya diri, apalagi orang-orang Jepang di negeri Jepang itu memanggil saya dengan sebutan ‘Profesor’ karena saya dinilai mumpuni dalam bidang tersebut,” ungkapnya.
Beberapa kali dia dikirim ke Jepang untuk memperdalam bidang machinery dan engine. “Saya jadi makin percaya diri, apalagi orang-orang Jepang di negeri Jepang itu memanggil saya dengan sebutan ‘Profesor’ karena saya dinilai mumpuni dalam bidang tersebut,” ungkapnya.
Tahun 1998 ketika krisis moneter terjadi, ia keluar dari PT Astra Daihatsu Motor, dan mendirikan usaha sendiri dengan mengibarkan bendera PT Sarimas Ahmad Pratama, berlokasi di Depok, Jawa Barat.
Perusahaan tersebut bergerak di bidang perancangan dan pembuatan mesin.
“Momentum untuk menjadi pengusaha itu hadir ketika terjadi krisis moneter tahun 1998. Saya yang semula sangat sibuk tiba-tiba jadi banyak sekali waktu yang kosong.
Penyebabnya, volume produksi yang semula 5.000 unit per bulan, turun drastis menjadi hanya 500 unit per bulan,” tutur Dasep.
Penyebabnya, volume produksi yang semula 5.000 unit per bulan, turun drastis menjadi hanya 500 unit per bulan,” tutur Dasep.
Ia menambahkan, “Saya yang biasa sibuk, jadi stress. Maka saya berusaha mencari alternative untuk menghilangkan stress tersebut.
Kebetulan Astra menawarkan pension dini bagi karyawan yang berminat melalui program yang disebut “golden shake hand”., Maka, saya ambil program tersebut, dan uang pesangonnya saya pakai modal untuk mendirikan usaha bisnis.” Mudah mudahan langkah ini ikut membantu mengatasi Suasana waktu itu banyak orang yg butuh lapangan Kerja.
Kebetulan Astra menawarkan pension dini bagi karyawan yang berminat melalui program yang disebut “golden shake hand”., Maka, saya ambil program tersebut, dan uang pesangonnya saya pakai modal untuk mendirikan usaha bisnis.” Mudah mudahan langkah ini ikut membantu mengatasi Suasana waktu itu banyak orang yg butuh lapangan Kerja.
Ada satu hal yang menarik pada diri seorang Dasep. Kepindahannya dari PINDAD ke Astra Group bukan karena mencari pekerjaan yang gajinya tinggi. “Komitmen saya adalah mengembangkan bidang permesinan.
Saya selalu setia di bidang tersebut. Baik saat bekerja pada orang lain maupun ketika mendirikan usaha sendiri,” paparnya.
Saya selalu setia di bidang tersebut. Baik saat bekerja pada orang lain maupun ketika mendirikan usaha sendiri,” paparnya.
Diakui oleh Dasep, tidak mudah keluar dari perusahaan mapan. Awalnya boleh jadi ada keraguan, namun ia berusaha memantapkan hatinya untuk tetap bulat pada keputusannya.
Demikian pula, adalah sebuah gambling ketika Dasep merintis usaha sendiri yang sudah barang tentu mengandung risiko. “Namun kalau niat kita baik, insya Allah akan ada jalan keluarnya.
Pada saat krisis moneter seperti ini banyak orang yang di-PHK dan akhirnya menganggur. Sebagai seorang insinyur, saya ingin turut berkiprah menciptakan lapangan kerja.
Hal itu sesuai dengan misi perusahaan, yakni memberikan manfaat dalam kehidupan, antara lain menciptakan lapangan kerja,” tegas Dasep.
Pada saat krisis moneter seperti ini banyak orang yang di-PHK dan akhirnya menganggur. Sebagai seorang insinyur, saya ingin turut berkiprah menciptakan lapangan kerja.
Hal itu sesuai dengan misi perusahaan, yakni memberikan manfaat dalam kehidupan, antara lain menciptakan lapangan kerja,” tegas Dasep.
Usaha yang didirikan oleh Dasep bergerak di bidang pembuatan mesin-mesin untuk industri otomotif. Awalnya, pelanggannya adalah Astra Daihatsu Motor, namun kemudian melebar ke produsen otomotif lainnya, seperti Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMI) dan PT Indomobil Suzuki International.
Selain itu, Honda Prospect Motor, Astra Honda Motor dan Yamaha Motor Part Manufacturing Indonesia, dan PT Kawasaki Motor Indonesia. “Kami focus ke nice market, artinya pasar yang sangat dekat, yang mirip atau ada kemiripan, sehingga cepat besar,” ujarnya.
Selain itu, Honda Prospect Motor, Astra Honda Motor dan Yamaha Motor Part Manufacturing Indonesia, dan PT Kawasaki Motor Indonesia. “Kami focus ke nice market, artinya pasar yang sangat dekat, yang mirip atau ada kemiripan, sehingga cepat besar,” ujarnya.
Tak hanya berjaya di dalam negeri. Produk PT Sarimas juga berhasil menembus pasar ekspor. Pada tahun 2005, Pero2 mulai dipakai oleh perusahaan Malaysia.
“Pada awalnya kami diminta membikin mesin-mesin pertanian, lalu juga diminta mengekspor mesin-mesin otomotif ke Malaysia,” ungkap Dasep.
“Pada awalnya kami diminta membikin mesin-mesin pertanian, lalu juga diminta mengekspor mesin-mesin otomotif ke Malaysia,” ungkap Dasep.
Kini PT Sarimas terus berkembang, sehingga mampu mempekerjakan karyawan langsung sebanyak 50 orang dan melibatkan 40 UKM dan sekitar 10 perusahaan besar sebagai subkontraktor. “Dari pengalaman membuat mesin, kami lalu menciptakan yang standar dan bisa dipakai oleh berbagai industry.
Mulai tahun 2007, kami membuat mesin CNC (computer numerical control machine) dengan berbagai ragamnya, yang dipakai oleh berbagai industri,” tuturnya.
Mulai tahun 2007, kami membuat mesin CNC (computer numerical control machine) dengan berbagai ragamnya, yang dipakai oleh berbagai industri,” tuturnya.
Mesin CNC tersebut, seluruhnya didesain dan diproduksi di dalam negeri. Local contentnya sudah di atas 35 persen, sehingga memberikan nilai tambah yang besar di dalam negeri.
Dalam usianya yang relative muda, Dasep dan PT Sarimas sudah beberapa kali mengukir prestasi tingkat nasional. Pada tahun 2009 ia berhasil merebut Prof BJ Habibie Technology Award dari BPPT Jakarta.
Produk teknologi hasil inovasi dan kretiavitas PT Sarimas yang bergerak di bidang perancangan dan pembuatan mesin perkakas tersebut dinilai bermanfaat. “Kami menilai produk dengan muatan teknologi yang bermanfaat dan memberikan nilai tambah, bukan focus kepada orangnya saja.
Melalui tekonologi pembuatan mesin, bisa dikembangkan industry baru. Jadi teknologi ini menjadi semacam modal industry lebih luas lagi,” tutur ketua panitia sekaligus salah satu juri BJ Habibie Technology Award 2009, Sulaiman Kurdi.
Melalui tekonologi pembuatan mesin, bisa dikembangkan industry baru. Jadi teknologi ini menjadi semacam modal industry lebih luas lagi,” tutur ketua panitia sekaligus salah satu juri BJ Habibie Technology Award 2009, Sulaiman Kurdi.
Sedangkan Kepala BPPT, Marzan A Iskandar menegaskan, “Penganugrahan penghargaan ini diberikan kepada pelaku teknologi yang telah menunjukkan keteladanan dalam hal kreativitas, integritas dan pengabdian sehingga menghasilkan karya unggul di bidangnya melalui inovasi dan perekayasaan teknologi.
Dengan penghargaan ini diharapkan akan muncul Habibie-Habibie baru yang mampu mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju melalui keunggulan teknologi.”
Dengan penghargaan ini diharapkan akan muncul Habibie-Habibie baru yang mampu mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju melalui keunggulan teknologi.”
Tahun 2010, Dasep juga berhasil memperoleh penghargaan Perintis Teknologi dari Kementrian Perindustrian. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Sebagai seorang pengusaha, Dasep aktif mengikuti berbagai training untuk memperdalam wawasan, manajerial maupun spiritualismenya.
Misalnya, Creation of Enterprises Formation of Entrepreneur (2006), Celestial Management Training , Jakarta (2006), dan ESQ Leadership Training, Jakarta (2008).***
sumber : dasep-ahmadi.com
Misalnya, Creation of Enterprises Formation of Entrepreneur (2006), Celestial Management Training , Jakarta (2006), dan ESQ Leadership Training, Jakarta (2008).***
sumber : dasep-ahmadi.com







0 komentar:
Post a Comment