Etika Niat
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; dalam (menjalankan) agama dengan lurus." (Al-Bayyinah: 5).
"Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama’." (Az-Zumar: 11).
"Sesungguhnya amal perbuatan itu harus dengan niat, dan setiap orang itu tergantung pada niatnya." (Muttafaq Alaih).
“Tidak melihat kepada bentuk fisik kalian, dan harta kalian, namun melihat kepada hati kalian, dan amal perbuatan kalian.” (Muttafaq Alaih).
Penglihatan kepada hati berarti penglihatan kepada niat, sebab niat adalah motivasi amal perbuatan.
"Barangsiapa ingin kepada kebaikan, dan ia tidak mengamalkannya, maka ditulis satu kebaikan untuknya." (Muttafaq Alaih).
"Manusia terbagi ke dalam empat kelompok:
- (Pertama) orang yang diberi ilmu dan harta oleh Allah kemudian ia mengamalkan ilmunya pada hartanya ia menginfakkannya di jalannya.
- (Kedua) orang yang diberi ilmu oleh Allah, tapi tidak diberi harta, kemudian ia berkata, 'Seandainya aku mempunyai seperti yang dipunyai dia (orang pertama,), aku pasti berbuat seperti yang ia perbuat.' Rasulullah saw. bersabda, “Pahalanya kedua orang tersebut sama."
- (Ketiga,) orang yang diberi harta oleh Allah, tapi tidak diberi ilmu, ia tidak bisa mengatur hartanya dan menginfakkannya tidak di jalannya.
- (Keempat) orang yang tidak diberi ilmu dan harta oleh Allah, kemudian ia berkata, 'Seandainya aku mempunyai apa yang dimiliki orang tersebut (orang ketiga), aku pasti berbuat seperti yang ia perbuat'. Rasulullah SAW bersabda, 'Dosa keduanya sama'." (Diriwayatkan lbnu Majah dengan sanad yang baik)
"Sesungguhnya di Madinah, terdapat orang-orang yang tidak mengarungi lembah, tidak menginjak tanah yang membuat orang kafir marah, tidak berinfak dengan apa pun, dan tidak ditimpa kelaparan, namun mereka sama dengan kita, kendati mereka berada di Madinah."
Ditanyakan kepada beliau, “Kenapa begitu, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. bersabda, "Mereka tidak bisa berangkat jihad karena udzur, kemudian mereka ikut kita dengan niat yang baik." (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Abu Daud).
"Jika dua orang Muslim bertemu dengan pedangnya masing-masing, maka pembunuh, dan orang yang terbunuh sama-sama masuk neraka." Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, kalau pembunuh betul, bagaimana dengan orang yang terbunuh?” Rasulullah saw. bersabda, "Karena ia juga ingin membunuh sahabatnya." (Muttafaq Alaih).
"Barangsiapa menikah dengan mahar dan berniat tidak membayarnya, ia pezina. Barangsiapa meminjam dan berniat tidak membayarnya, ia pencuri." (Diriwayatkan Ahmad).
Hanya dengan niat yang rusak, sesuatu yang mubah berubah menjadi sesuatu yang haram, dan sesuatu yang diperbolehkan menjadi sesuatu yang dilarang, serta sesuatu yang tidak ada kesulitan berubah menjadi ada kesulitan di dalamnya.
sebab niat adalah intisari amal perbuatan dan pilarnya. Baik tidaknya amal perbuatan tergantung pada niatnya.
sebab niat adalah intisari amal perbuatan dan pilarnya. Baik tidaknya amal perbuatan tergantung pada niatnya.
Amal perbuatan tanpa niat menjatuhkan pelakunya ke dalam riya’ dan tercela.
Selain itu, orang Muslim meyakini bahwa niat adalah rukun amal perbuatan dan syaratnya. Ia meyakini bahwa niat tidaklah sekadar dengan lisan, misalnya mengatakan,
"Allahumma nawaitu kadza (Ya Allah, aku berniat melakukan amal perbuatan ini)."
niat adalah kebangkitan hati kepada amal perbuatan yang baik untuk tujuan mulia mendatangkan manfaat, menolak madharat yang terjadi sekarang, atau mendatang.
Niat merupakan keinginan yang diarahkan kepada amal perbuatan untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala, atau melaksanakan perintah-Nya.
Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 105-109.







0 komentar:
Post a Comment