ambisi
“Ambisius amat, sih, dia! ‘Tuduhan’ itu sering membuat orang alergi untuk memiliki ambisi. Padahal, jika Anda ingin sukses berkarier, ambisi adalah salah satu syarat penting!
Penulis: Yuniarti Tanjung
sumber : http://www.femina-online.com/issue/issue_detail.asp?id=491&cid=3&views=12
AMBISI ITU POSITIF
- Jangan takut jika Anda disebut ambisius. Bahkan, Mahatma Gandhi, seorang pemimpin besar India yang terkenal dengan kepemimpinannya yang arif dan bijaksana pun mengakui, ia berambisi.
- Hal ini dinyatakannya, saat ia ditanya, mengapa berani meninggalkan karier gemilang di bidang hukum, yang tentunya memberi penghasilan mapan, lalu memilih menjadi pemimpin politik yang penuh pengorbanan? Gandhi tegas menjawab, “Ini karena ambisi.”
- Ambisi berasal dari kata bahasa Inggris, ambition, yang berarti disired to achieve something atau will to success. Jadi, dalam bahasa Indonesia ambisi adalah keinginan untuk mencapai sesuatu atau kemauan untuk mencapai sukses.
- Di sini, arti ambisi jelas-jelas berkonotasi positif. Begitu pula dengan ambisius, yang menunjuk pada orang yang berambisi.
- Ambisi ternyata penting dimiliki, karena ambisilah yang menggerakkkan seseorang untuk mencapai tujuan-tujuan berkarier. Tanpa ambisi, seseorang seolah-olah tidak melakukan apa pun.
- Napoleon Hills, penulis buku Think and Grow Rich, menyebutkan kurang ambisi adalah satu faktor utama yang menyebabkan kegagalan seseorang.
- Lantaran, tanpa atau kurangnya ambisi, jalan Anda mencapai tujuan tersendat-sendat, akibat tidak memiliki motivasi.
- Akhirnya, karena terlalu lamban, Anda pun menemui kegagalan.
- Gandhi menguraikan, ia berambisi menjadi pemimpin politik bukanlah tanpa sebab.
- Nurani Gandhi terusik demi melihat ketergantungan India terhadap kolonial Inggris dalam berbagai segi kehidupan. Dia merasa gemetar, kalau membayangkan ketika dirinya sekarat, ia mengucapkan kata-kata: ”Seharusnya saya mampu melakukan jauh lebih banyak hal dalam hidup saya.”
- Uniknya, Gandhi melawan dengan tanpa kekerasan.
- Jangan Anda mengira ambisi tidak terlihat. Bos atau pemilik perusahaan tetap dapat melihat ambisi Anda. Melalui hasil kerja Anda, mereka akan menilai apakah Anda seseorang yang berambisi atau tidak.
- Biasanya, orang yang berambisi akan berusaha membuat hasil pekerjaannya sesuai standar tertentu, bukan asal jadi, asal cepat, atau asal memenuhi tenggat.
BISA MENJADI ’RACUN’
- Ambisi bernilai positif, lalu mengapa timbul tuduhan miring tentang orang yang berambisi? Jawabannya, karena untuk mewujudkan ambisi, seseorang jadi terobsesi, sehingga ambisinya berlebihan dan tak jarang ‘menghalalkan’ segala cara.
- Karena itu, Anda perlu memiliki batasan dalam mengejar ambisi. Dengan mempertimbangkan lingkungan, nilai-nilai moral dan norma-norma di sekitar Anda, etika, serta kondisi Anda sendiri.
- Misalnya, tahun ini Anda berambisi dipromosikan menjadi senior manajer marketing. Ambisi seharusnya mendorong Anda untuk lebih rajin melakukan riset pasar, atau mencari terobosan-terobosan baru dalam pemasaran.
- Bukan secara diam-diam, Anda justru mencuri ide teman. Itu adalah ambisi yang melanggar nilai-nilai persahabatan, sekaligus etika.
- Contoh lain, demi ambisi terlihat menjadi manajer iklan andal, Anda memasang kenaikan target 100 persen. Anda tak peduli, padahal kondisi ekonomi nasional –yang juga memengaruhi dunia iklan– sedang lesu.
- Gara-gara ambisi Anda yang berlebihan dan tidak realistis, anak buah Anda tertekan, bahkan mengundurkan diri.
- Sebagai orang yang berambisi, kadang-kadang Anda tak menyadari seberapa jauh ambisi Anda itu membuat orang lain tidak nyaman atau tertekan.
- Berikut ini beberapa ciri yang menunjukkan ambisi Anda sudah berlebihan :
- Jika rekan satu tim atau satu level dengan Anda yang biasanya sering berdiskusi bersama, mulai menjauhi Anda.
- Anak buah tertekan bekerja di bawah Anda. Hal ini terlihat dengan raut wajah mereka yang tak senang, atau malah takut melihat Anda.
- Dilihat dari hasil kerja, mereka sering melakukan kesalahan-kesalahan sepele yang sebetulnya bisa dihindari. Mereka tak lagi berdiskusi dengan Anda, bahkan kini membuat jarak. Kreativitas anak buah Anda pun tak berkembang.
- Pekerjaan anak buah sering kali tak selesai atau sulit rampung gara-gara ‘protes’ Anda yang tiada henti
- Orang-orang malas berada dalam satu tim dengan Anda Dalam lingkungan sosial, Anda tidak begitu diterima. Begitu Anda datang, pembicaraan yang tadinya seru, langsung ‘dingin’.
- Selain dari reaksi orang lain, tubuh Anda juga ‘pintar’ memberikan reaksi untuk menunjukkan ambisi Anda sudah berlebihan.
- Antara lain, karena terus- menerus dibebani tugas untuk mewujudkan ambisi, Anda jadi melupakan istirahat. Pada satu titik, Anda biasanya kerap menderita sakit kepala, mudah lelah, susah tidur, dan merasa tertekan.
- Jeleknya, ketika kelelahan fisik ini mendera, Anda menjadi mudah marah, kurang menoleransi kesalahan, dan solusi yang diambil sering salah atau sulit berkonsentrasi.
- Kalau ini sudah terjadi, maka ambisi itu menjadi ‘lampu kuning’ bagi karier Anda.
PEMIMPIN BERAMBISI
- Agar ambisi Anda terwujud, Anda harus menyiapkan ‘amunisi’ dari diri sendiri dulu. Buatlah juga ambisi yang realistis, dengan menengok kemampuan diri dan kondisi di sekitar Anda.
- Anda juga perlu mempersiapkan diri bekerja lebih keras. Buatlah perencanaan kerja, agar hasil pekerjaan lebih terarah.
- Buat pula tenggat untuk pekerjaan Anda, sekaligus membuat skala prioritas pekerjaan.
- Lalu, berusahalah fokus dalam bekerja, misalnya dengan meminimalkan ‘interupsi’, seperti menunda menjawab SMS atau membaca e-mail yang tidak penting, dan membatasi waktu bergosip.
- Sangat tidak lucu, jika Anda mengharapkan anak buah Anda terus bekerja, sementara mereka mendengar Anda ngobrol di telepon, misalnya.
- Miliki ketekunan menggapai ambisi, disertai kesediaan ‘membuka mata’.
- Bekal untuk menjadi pribadi penuh ambisi sudah di tangan. Tapi, belum tentu ambisi yang sama besar dimiliki anak buah Anda. Ini pekerjaan yang sulit.
- Karena, tak jarang ambisi macet di tengah jalan, karena hambatan-hambatan dalam tim Anda. Bukannya menyambut ide Anda, diam-diam mereka menganggap ide Anda tidak realistis, sehingga mereka bersikap setengah hati dalam mengerjakannya.
- Berikut ini beberapa hal yang perlu Anda perhatikan untuk ‘me ngegolkan’ ambisi Anda bersama tim, mengutip dari buku Leadership A to Z: A Guide for the Appropriately Ambitious, yang ditulis oleh James O’Toole.
- Adakan perubahan. Di sini, gunakan kata kunci adaptasi. Artinya, Anda melakukan perubahan, tetapi dengan memerhatikan potensi yang dimiliki anak buah Anda.
- Menciptakan pengikut (bawahan) yang antusiasme mengikuti Anda. Mungkin Followers Creed (Sabda Pengikut) yang dirumuskan dalam pertemuan sekelompok manajer di Universitas Cape Town, Afrika Selatan, bisa menjadi patokan, yakni:
- Bersikap fleksibel. Tak selamanya bawahan bisa mengikuti langkah Anda. Bersikaplah fleksibel, misalnya mengubah strategi yang lebih realistis. Namun, perubahan ini pun perlu Anda pilah-pilah. Ada perubahan yang bersifat prinsip, ada yang tidak. Misalnya, Anda berprinsip tidak memberi suap. Di lapangan, anak buah Anda kesulitan dalam hal perizinan karena tak ada uang pelicin. Menyerahkah Anda demi ambisi menyelesaikan proyek? Mantan PM Inggris, Margaret Thatcher, mengatakan, seseorang dapat mengubah taktik, strategi, dan program-programnya sesuai perubahan situasi. Tapi, mengubah prinsip? No way.
- Komunikasikan ambisi Anda kepada bawahan dan mintalah pendapat mereka.
- Kontrollah setiap langkah untuk mewujudkan ambisi, tapi tidak secara berlebihan (apalagi menekan), karena bisa me matikan inisiatif bawahan Anda.
- Ego. Sebagai pemimpin, ada keinginan di bawah sadar untuk memaksa orang lain mendukung ambisi Anda. Dan, ketika ambisi mendekati tujuannya, ada ego untuk menampilkan keberhasilan itu berkat kerja keras Anda, bukan tim. Hati-hati, ego seperti ini bisa menyakitkan hati, dan kelak Anda tidak akan mendapat dukungan lagi.
- Inteligensi. IQ (intellegence quotient) penting, begitu pula EQ (emotional quotient). Tapi, untuk kepemimpinan, yang terpenting adalah inteligensi untuk memimpin, yakni kemampuan memahami karakteristik bawahan dan mendorong mereka untuk maju.
- delegasikan tugas kepada bawahan. Untuk mewujudkan ambisi, tak perlu Anda maju untuk semua lini. Miliki standar operasional.
- Kedermawanan. Jika Anda mengharapkan dukungan dan lo yalitas bawahan, perjuangkan pula hak-hak mereka.
sumber : http://www.femina-online.com/issue/issue_detail.asp?id=491&cid=3&views=12







0 komentar:
Post a Comment