Orang Yahudi Tidak Suka Merokok
Home »
» Orang Yahudi Tidak Suka Merokok
Allah ta’ala berfirman, “Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (Al-Baqarah:195)
Rasa penasaran
yang amat dalam dari kaum muslimin mengapa Yahudi bisa lebih maju dari
kita? Sudah bukan rahasia lagi kalau perusahaan-perusahaan raksasa
semisal Microsoft dan Apple diprakarsai oleh orang Yahudi. Semua orang
di dunia pun tahu situs jejaring sosial Facebook telah menggurita dan
meneriakkan nama Mark Zackerberg sebagai founder-nya yang juga adalah
orang Yahudi. Kali ini kita akan membahas kelebihan orang Yahudi dari
kebiasaan mereka untuk tidak merokok. Jika ada fatwa ulama dari kaum
mereka tentang boleh tidaknya merokok sudah sangat jelas mereka akan
menfatwakan haram. Karena mereka sangat paham bahaya merokok bagi
kehidupan.
Mengambil sumber dari buku Cat Rambut Orang Yahudi karya Capphy Hakim
saya tuliskan sebagai berikut, Yang istimewa lagi adalah: di Israel,
merokok itu tabu! Mereka memiliki hasil penelitian dari ahli peneliti
tentang genetika dan DNA yang meyakinkan bahwa nikotin akan merusak sel
utama yang ada di otak manusia, yang dampaknya tidak hanya kepada si
perokok, tetapi juga akan memengaruhi “gen” atau keturunannya. Pengaruh
yang utama adalah dapat membuat orang dan keturunannya menjadi “bodoh”
atau “dungu”. Walaupun kalau kita perhatikan, penghasil rokok terbesar
di dunia ini adalah orang Yahudi! Tetapi, yang merokok bukan orang
Yahudi.
Bahkan di paragraf terakhir di buku itu
dituliskan bahwa, Khusus tentang rokok, Negara yang mengikuti jejak
Israel adalah Singapura. Di Singapura, para perokok diberlakukan sebagai
warga Negara kelas dua. Semua yang berhubungan dengan perokok akan
dipersulit oleh pemerintahnya. Harga rokok 1 pak di Singapura adalah 7
dollar AS (sebanding dengan 70.000 rupiah), bandingkan dengan di
Indonesia yang hanya berharga 70 sen dollar AS (sebanding dengan 7.000
rupiah). Pemerintah Singapura menganut apa yang telah dilakukan oleh
peneliti Israel bahwa nikotin hanya akan menghasilkan generasi yang
“bodoh” dan “dungu”.
Keluarga Yahudi sangat memproteksi
anggota keluarganya dari rokok. Bila ada tamu berkunjung ke rumah dan
tamunya seorang perokok maka tidak ada asbak disediakan di rumah. Bila
tamunya hendak merokok maka dipersilakannya tamunya merokok di luar. Dan
sang tuan rumah tidak akan menemani tamunya selama masih merokok.
Sebegitu besarnya perhatian masyarakat Yahudi akan besarnya bahaya
merokok bagi keluarga mereka.
Indonesia adalah negara dengan jumlah
perokok terbesar ketiga setelah Cina dan India. Hal ini memberikan angin
segar bagi produsen rokok untuk meraup keuntungan. Tiap kali ada
kepulan asap rokok di sana produsen rokok tertawa terkekeh-kekeh
menikmati keutungan milyaran rupiah sedang para perokok lama-kelamaan
terseret dalam pusaran kenikmatan yang membawa kepada jurang kehancuran.
Lebih tragis lagi sekarang sudah semakin sering ditemukan perokok usia
belia. (Di situ saya merasa sangat sedih)
Ada hal yang mengagetkan ditemukan pada
bunyi slogan bahaya merokok yang selalu terpampang di kemasan rokok atau
pada iklan-iklan di televisi. Dalam sejumlah riset neurologi, ternyata
slogan bahaya merokok itu justru mengundang orang untuk makin banyak
merokok. Kenapa? Ternyata setelah diteliti dalam otak manusia ada sel
saraf otak yang cenderung mendorong manusia berbuat hal kebalikan dari
hal-hal yang tertera pada peringatan. Jadi peringatan bahaya merokok
sebenarnya lebih menguntungkan pengusaha rokok.
Sebaliknya dalam sejumlah eksperimen
iklan, rokok digambarkan sebagai sosok monster mengerikan yang datang
untuk merenggut masa depan dan hak anak-anak. Monster ini datang
menawarkan kenikmatan merokok yang akhirnya merusak sel tubuh anak-anak.
Dan harus dilawan oleh sekumpulan anak muda gagah berani dan idealis
yang memperjuangkan masa depan dan hak anak-anak. Setelah iklan ini
ditayangkan ajaibnya jumlah perokok di kalangan anak muda menurun
drastis. Alasannya jelas : citra anak muda yang gagah berani dan idealis
itu bagaikan superhero yang menancap dalam benak pikirannya. Dan
sebaliknya mereka malu untuk merokok karena sama saja dengan menyamakan
dirinya seperti monster yang merampas kebahagiaan anak-anak. Negara ini
membutuhkan iklan superkreatif seperti ini.
Banyak sekali alasan yang merintangi
menutup usaha rokok, salah satu di antaranya adalah bahwa rokok
menyumbang cukai trilyunan rupiah kepada negara. Asal tahu saja,
sebenarnya sumbangan cukai trilyunan rupiah itu berasal dari kantong
para perokok dan bukan dari produsen.
Kaum muslim di Indonesia sebagai warga
mayoritas di negeri ini harus sudah mulai sadar bahaya merokok bagi
kehidupan. Selain merusak kesehatan, bila dihitung dalam rupiah berapa
besar biaya yang dikeluarkan untuk membeli satu bungkus rokok per hari.
Dikalikan per bulan kemudian per tahun. Betapa mulia uang untuk membeli
rokok dialihkan kepada hal yang lebih bermanfaat. Untuk membayar SPP
anak kita misalnya.
Terlebih lagi keuntungan masa depan bagi
generasi yang akan datang ialah terciptanya generasi muda yang sehat dan
cerdas. Kaum Yahudi telah membiasakan hidup sehat tanpa rokok selama
puluhan bahkan ratusan tahun lamanya. Kebiasaan dan disiplin hidup tanpa
rokok itu telah diwariskan dari generasi ke generasi. Sehingga wajar
kita temui saat ini generasi muda mereka lebih unggul karena lebih
sehat, kuat dan cerdas. Kaum Yahudi telah membuat rokok untuk melemahkan
musuhnya. Adalah kita yang harus tegas mengatakan tidak pada rokok !!







0 komentar:
Post a Comment